0

Dokumentasi SRDH Al-Amin 2010


Kegiatan Halaqoh Santri Raksa Desa Hutan (SRDH)
Dilaksanakan pada tanggal 28-30 Agustus 2010 di Pesantren Al-Amin Tasikmalaya
Peserta sebanyak 100 orang, terdiri dari tamu undangan dan Santri Al-Amin






0

Halaqoh Santri Raksa Desa Hutan di Pesantren Al-Amin

Mengelola dan melestarikan hutan dengan memanfaatkannya secara optimal, dalam lingkup syari'at Islam tergolong kategori mu'amalah yang di dalamnya termasuk dua bentuk kegiatan utama yaitu aspek kepemilikan dan azas manfa'at. Di dalam implementasinya azas manfa'at harus memperoleh prioritas utama karena pada dasarnya segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit hakikat pemiliknya adalah Alloh SWT., sedangkan manusia diciptakan Alloh sebagai Khalifah yang kinerjanya difokuskan dalam konteks ibadah sebagai sarana untuk taqorruban ilalloh (mendekatkan diri kepada Alloh)

Sebagai bagian dari alam semesta, hutan dengan segala isi kandungannya adalah limpahan karunia Alloh pada manusia agar mereka pandai bersyukur kepada-Nya, misalnya dengan cara mengelola alam ini sesuai dengan aturan yang dikehendaki Alloh pula.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, hanya agama Islam-lah yang secara transparan memandu setiap individu agar menyadari kehadirannya di muka bumi ini sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dari alam semesta, bahkan secara tegas Alloh memberitahukan bahwa manusia itu diciptakan-Nya dari tanah, dan akhirnya akan dikembalikan pula ke tanah.

Mengingat di atas tanah itu manusia hidup, maka semua fasilitas yang ada semuanya ditaklukan Alloh kepada manusia supaya manusia dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan demikian, bagi manusia tanah itu merupakan sumber sarana untuk memperoleh rezeki dalam menyambung hidupnya.

Dalam konteks yang gampang dicerna inilah, memakmurkan alam menjadi sangat relevan diprioritaskan manusia untuk memperoleh manfa'at sebesar-besarnya demi kesejahteraan bersama. Jika akhir-akhir ini ternyata kehadiran manusia di tengah-tengah alam semesta sebagai pelaku utama terjadinya bermacam-macam kerusakan, maka disamping derajat kemanusiaannya jatuh tersungkur di bawah predikat binatang, juga ia telah dengan sengaja mengingkari perannya di muka bumi sebagai kholifah Alloh.

Maka untuk mencetak manusia-manusia yang peduli terhadap alam tempat ia berpijak dan sadar akan pentingnya menjaga kelestarian hutan, Pesantren Al-Amin menyelenggarakan sebuah acara dalam bentuk Halaqoh Santri raksa Desa. Acara tersebut dilaksanakan selama 2 hari 2 malam mulai tanggal 28-30 Agustus 2010 dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang kompeten di bidangnya. Acara ini melibatkan 100 orang peserta yang terdiri dari tamu undangan dan santri.

Acara ini diharapkan mampu menjawab tantangan dalam rangka ikut serta melestarikan hutan Indonesia dari kerusakan. Dan acara ini juga diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Alloh SWT. Semoga acara ini bermanfa'at dan membawa kebaikan bagi kita semua. Amiin... [*din/]

0

Manajemen Strategis AL-AMIN

Berdasarkan Renstra Kota Tasikmalaya Tahun 2002-2007, Pemerintah Kota Tasikmalaya Memiliki Visi Pembangunan “Dengan Berlandaskan Iman dan Taqwa Kota Tasikmalaya Menjadi Pusat Perdagangan dan Industri Termaju di Wilayah Priangan Timur Tahun 2012”. Visi ini akan menjadi nyata jika didukung oleh tersedianya sumber daya manusia yang cerdas dan terampil dalam menguasai teknologi dan mengelola informasi.

Berdasarkan VISI dan letak strategis Kota Tasikmalaya tersebut, diprediksikan bahwa di kota Tasikmalaya dan kawasan sekitarnya akan terjadi akselerasi pembangunan daerah dan kegiatan bisnis dengan segala konsekuensi perkembangan budaya dan teknologi yang dapat mempengaruhi potensi ummat Islam.

Sebagai sebuah peluang, maka perkembangan tersebut di atas dapat di isi dengan tatanan SDM yang Islami sehingga dapat membawa perubahan yang positif di masyarakat serta akan mampu mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil’alamin.

Sebagai sebuah ancaman, perkembangan lingkungan dimaksud akan mendorong terjadinya pergeseran nilai terutama di kalangan generasi muda sehingga terjauhkan dari nilai-nilai ruh Islam dan bukan hal yang mustahil bahwa kekuatan ekonomi ummat akan terpinggirkan oleh kekuatan pemodal besar dengan jaringan usahanya yang kuat.

Dengan adanya kondisi perkembangan lingkungan lokal seperti tersebut di atas maka Pondok Pesanten Al-Amin membangun manajemen strategis sebagai berikut :

A. Visi

Membentuk integritas kepribadian muslim yang berhati ikhlas, berilmu amaliah dan beramal ilmiah dengan memanfaatkan segala potensi dan fasilitas yang disediakan Alloh agar berdaya guna dalam menjalankan fungsinya sebagai kholifah fil ardli.

B. Misi
  1. Menanamkan kaidah-kaidah ajaran Islam yang komprehensip sebagai satu-satunya ajaran agama yang haq.
  2. Meningkatkan model pendidikan Islam aplikatif yang mengutamakan kesetaraan Fikir dan Dzikir sesuai dengan petunjuk Alloh dan Rosul-NYA.
  3. Menumbuhkembangkan potensi intelegensia peserta didik agar memiliki kemampuan dan keterampilan dalam memadukan akal dan hati nurani.
C. Strategi
  1. Membangun dan mengembangkan SDM yang berkualitas dan Islami (Tarbiyah)
  2. Membangun dan mengembangkan tatanan ekonomi umat Islam (Mu’amalah)
  3. Transformasi nilai-nilai luhur Islam sebagai media dakwah dalam berbagai aspek pembangunan
  4. Penguasaan teknologi tepat guna dalam pemberdayaan Pondok pesantren dan pengembangan dakwah
  5. Memelihara dan mengembangkan tali silaturahiim dalam membangun jaringan kelembagaan.
D. Kebijakan

Kebijakan Yayasan Pendidikan Islam AL-AMIN dalam mengembangkan jati dirinya terbagi dalam tiga tahap yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

Tahap Pertama, Tahap Pengembangan Ekonomi

Sejarah Al-amin di mulai dari tahap Pengembangan ekonomi yang diarahkan kepada kemandiriaan pembiayaan kegiatan pendidikan dan dakwah. Kegiatan ekonomi dilakukan melalui pembinaan dan pemantapan sumber daya :
  1. Santri terampil usaha
  2. Potensi kerajinan lokal khususnya bordir dan busana muslim.
  3. Perdagangan umum
  4. Bimbingan umrah.
  5. Ziswah
Tahap kedua, Pengembangan Bidang Pendidikan

1. Pengembangan pendidikan :
  1. Pemantapan kurikulum dan pengayaan keterampilan
  2. Peningkatan kualitas dan jumlah pendidikan
2. Pengembangan sarana pendidikan
  1. Kantor
  2. Perpustakaan
  3. Sarana belajar ( Aliyah )
  4. Asrama
  5. Dapur umum
  6. Perumahan kiyai / ustadz
  7. Fasilitas pengolahan air bersih
  8. Mini market
  9. Gedung serbaguna
  10. Klinik kesehatan
Tahap ketiga, Tahap Pengembangan Peran Sosial Kelembagaan

Tahap ini merupakan tahap ketiga setelah memperkuat struktur keuangan, kelembagaan dan SDM. Tahap ini diarahkan kepada perkuatan peran sosial kemasyarakatan Pondok Pesantren dalam pembangunan Ummat Islam. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan Bimbingan Ibadah Haji, beasiswa pelajar dan santunan kepada kaum dhuafa.

0

Perubahan Paradigma

Untuk menjawab tantangan perubahan zaman tersebut maka diperlukan paradigma yang komprehensif dan pemantapan pola didik sumber daya insani sebagai generasi penerus bangsa sebagaimana tergambarkan berikut :

Gb.1 Paradigma pengembangan Pondok Pesantren


Gb.2 Paradigma pola didik Sumber Daya Manusia

Dalam konteks tersebut di atas, diperlukan harmonisasi antara pengembangan Tarbiyah, Ekonomi dan kesiapan SDM serta advokasi ummat. Pengembangan tarbiyah berkaitan erat dengan proses penyiapan sumber daya insani yang berkualitas yang memiliki keunggulan dalam berbagai bidang disertai penguasaan teknologi dan informasi. Pengembangan Ekonomi berkait erat dengan persoalan bagaimana tatanan ekonomi umat Islam dapat tetap bertahan, dapat bersaing / mensejajarkan diri dalam era pasar bebas. Proses advokasi keumatan sangat diperlukan sebagai wujud kesalehan sosial dalam mengangkat harkat dan derajat ummat. Kesiapan SDM merupakan salah satu kunci utama untuk menggerakan berbagai aktivitas dimaksud.

Dalam mengembangkan sumber daya insani, dibutuhkan keterpaduan dan keharmonisan antara qolbun (hati), pola pikir dan perkembangan jasad insani yang diwarnai oleh Tsaqofah Islamiyah (ilmu pengetahuan Islam) sehingga diharapkan dapat melahirkan generasi qolbun salim yang sehat, kuat, terampil dan berpola pikir cerdas yang dilandasi oleh Iman dan Taqwa kepada Alloh SWT. sehingga dia selalu menempatkan diri pada posisi yang bermanfaat untuk diri dan lingkungannya dalam menggapai Ridho Alloh SWT.

Pelaksanaan seluruh komponen aktivitas tersebut di atas diikat dalam jaringan kerjasama kelembagaan dan atau perorangan dalam bingkai tali silaturahim.

0

Analisi Kodisi Lingkungan Saat Ini

Perkembangan lingkungan yang didorong oleh perkembangan teknologi berjalan pesat dan tidak mengenal lagi batas-batas negara. Budaya dengan berbagai gaya hidupnya telah menjadi mudah tersaji dihadapan ummat Islam baik melalui media elektronik, cetak maupun melalui berbagai kegiatan show di daerah-daerah. Hedonisme dan budaya instan ini telah merasuki kalangan generasi muda. Terjadinya pergeseran nilai terutama di kalangan generasi muda sehingga terjauhkan dari nilai-nilai ruh Islam.

Perkembangan ekonomi mendorong berkembangnya berbagai pusat-pusat perbelanjaan / bisnis yang membentuk lingkungan baru dengan persaingan yang sedemikian ketatnya. Kekuatan ekonomi ummat mulai terpinggirkan oleh kekuatan pemodal besar dengan jaringan usahanya yang kuat. Ummat Islam terutama di pedesaan dihadapkan kepada kemiskinan.

Ummat Islam hari ini berada dalam kondisi terpuruk dan posisi pondok pesantren termarjinalkan oleh aksesibilitas sehingga misi rahmatan lil alamin belum begitu optimal. Ketakberdayaan ekonomi, rendahnya mutu pendidikan, dan rendahnya nilai-nilai budaya menyebabkan ketidakberdayaan dalam mentransformasikan dirinya sebagai sosok muslim dan mu’min yang sempurna sehingga telah memperlemah kondisi masyarakat, bangsa, serta negara.

Bahwa ragam persoalan mendasar sebagaimana terurai, perlu dihadapi dengan kesabaran kuat serta memaksimalkan ikhtiar yang progresif, terorganisir dan benar. Untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin diperlukan paradigma yang komprehensif dan pemantapan pola didik sumber daya insani sebagai generasi penerus bangsa.

0

Profile YPI AL–AMIN

1. Aktivitas

a. Kajian khusus Ilmu Islam

1) Tahfidzul Qur’an Ulumul Qur’an

2) Kajian Kitab Kuning dan Implementasi Islam Kontemporer

b. Pendidikan Madrasah Aliyah terpadu

c. Kewirausahaan Terpadu

1) Bimbingan Ibadah Haji Dan Umroh serta travel agent

2) Perdagangan Busana Muslim

3) Konveksi

d. Diklat Keterampilan

1) Manajemen wirausaha

2) Bordir

3) Bahasa Asing ( Arab dan Inggris )

e. Sosial kemasyarakatan

1) Bina Yatim Piatu non Panti

2) Fasilisator pengembangan pondok Pesantren, Majlis Ta’lim, madrasah Diniyah dan Ustadz.

2. Kualifikasi Tenaga Pendidik

a. Jumlah guru / ustadzah sebanyak 49 orang

b. Lembaga Asal rekruitmen perguruan Lulusan Al-Azhar Mesir, IAIN, IAIC, UNPAD, UNSIL, UNIGAL, dan lulusan ponpes yang kompeten di Jawa Barat dan Jawa Tengah

3. Jumlah Dan Daerah Asal Santri

a. Jumlah santri sebanyak 579 orang

b. Daerah asal santri Sumatera, DKI Jakatra, Banten, Jawa Barat, NTB, Jawa Tengah DI Yogyakarata.

4. Fasilitas

a. Luas kompleks 30.000 m2

b. Asrama Putri-Putra

c. Aula Serbaguna

d. Gedung Madrasah Aliyah.

e. Mesjid Putra-Putri

f. Koperasi Pondok Pesantren

g. Kantin Putra-Putri

h. WC Putra-Putri

i. Workshop bordir dan Komputer

j. Lapangan Olah Raga

k. Lapangan Prakir

l. Dapur Umum

m. Wartel

n. Poskestren ( dalam proses perencanaan )

o. Bela Diri

p. Kegiatan Ekstra Kurikuler lainnya

1

Sejarah Berdirinya YPI AL-AMIN Tasikmalaya

Di awali dari kegiatan usaha Tjiwulan Bordir yang dimiliki oleh H. Zarkasyie, pada tahun 2000 dengann dengan akta pendiriannya nomor 15 tahun 2000, beliau mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al-Amin dengan tujuan untuk mencetak kader-kader Islami yang beretos kerja tinggi, berdisiplin, jujur dan amanah sehingga diharapkan mampu memberi nilai manfaat untuk lingkungannya dan secara khusus dapat lebih memperkuat unit usaha Tjiwulan Bordir serta memperkokoh aktivitas Pondok Pesantren Al-Amin.

Menurut beliau, Sumber Daya Manusia yang diwarnai oleh Dienul Islam ternyata mampu mendukung keunggulan produk ke-wilayah-an. Hal tersebut dikarenakan Dienul Islam memiliki tata nilai etos kerja yang tinggi, disiplin yang kuat, kejujuran dan nilai Amanah serta memiliki nilai barokah. Beliau menyimpulkan bahwa kegiatan usaha dan pendidikan adalah dua hal yang terpisah secara kelembagaan, akan tetapi satu sama lain harus terkait erat dan simultan sehingga menciptakan Link and Match antara dunia pendidikan dan dunia usaha. Lebih jauh, beliau meyakini bahwa tatanan SDM yang Islami akan mampu membawa perubahan yang positif di masyarakat serta akan mampu mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil’alamin.

Secara kronologis perkembangan rintisan pondok pesantren AL-AMIN dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Tahun 1961-1975, rekruitmen tenaga ahli bidang industri kerajinan bordir.
  2. Tahun 1987, didirikan Lembaga Pendidikan Bordir (LPB).
  3. Tahun 1989, merintis pangsa pasar luar negeri.
  4. Tahun 1991, resmi ekspor perdana ke Timur Tengah.
  5. Tahun 1998, didirikan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dan Umroh
  6. Tahun 1998, didirikan Majlis Ta’lim untuk masyarakat.
  7. Tahun 2000, didirikan Pondok Pesantren AL-AMIN.
  8. Tahun 2001, didirikan Madrasah Aliyah AL-AMIN.
  9. Tahun 2009, didirikan SMP Islam Terpadu AL-AMIN.
Pondok persantren AL-AMIN berusaha mewujudkan model pendidikan islam yang komprehensif dan aplikatif yang ditopang dengan kecerdasan memandang situasi dan kondisi dimana, dan bagaiman Al-Islam dibumikan sesuai dengan petunjuk Alloh dan Rosul-Nya.

0

Sejarah Berdirinya YPI AL-AMIN Tasikmalaya

Gedung sekolah MA AL-AMIN

Sambil menyelam minum susu. Demikian peribahasa tepat bagi Pondok Pesantren Al-Amin Tasikmalaya. Pesantren yang baru berdiri di awal millenium ke dua yang terbukti mampu membaca perkembangan zaman.

Awalnya, Yayasan Pendidikan Islam Al-Amin, lembaga pendidikan yang berbasis Islam tersebut, hanya sebuah lembaga pendidikan bordir bernama "Tjiwulan Bordir". Dari sinilah cikal bakal kegiatan pendidikan di Al-Amin dimulai.

Berawal dari mimpi H. Zarkasyie, untuk membangun lembaga pendidikan berbasis Islam, maka dengan usahanya yang gigih dan dukungan dari para puteranya serta pertolongan Allah SWT., terwujudlah keinginan tersebut. Didirikanlah Pondok Pesantren Al-Amin pada tahun 2001. Setahun kemudian, disusul dengan berdirinya Madrasah Aliyah Al-Amin pada tahun 2002.

Berdiri di sebuah kampung terpencil bernama Cukang, kelurahan Tanjung, kecamatan Kawalu, Al-Amin yang dibesarkan oleh pengusaha, turut mendidik santrinya menjadi pengusaha. Tjiwulan bordir, Pondok Pesantren Al-Amin, dan Madrasah Aliyah Al-Amin secara utuh disatukan menjadi sebuah lembaga resmi yang diberi nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Amin Terpadu.

Dengan kurikulum dan sistem pembelajaran yang terpadu, Al-Amin ingin mewujudkan cita-cita generasi unggulan yang siap membangun bangsa Indonesia. Konsep-konsep ajaran Islam yang sempurna dijadikan acuan pembelajaran dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kebersihan misalnya, menjadi salah satu sorotan utama dalam kehidupan sehari-hari. "Tidak hanya hafal ayat Al Qur'an dan hadits yang berkenaan dengan kebersihan, tetapi juga terus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari." Tegas KH Wawan Setiawan.

Disiplin juga menjadi icon penting bagi Al-Amin. Dimulai dengan menerapkan disiplin dalam melaksanakan sholat berjama'ah di mesjid, diharapkan seluruh warga YPI Al-Amin mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pengikut

Berlangganan

Kirim update terbaru dari Al-Amin langsung ke Emal anda!

Bergabung di Keluarga Besar Al-Amin